Translate

Minggu, 29 April 2012


AKULTURASI  ISLAM di INDONESIA


AKULTURASI  ISLAM di INDONESIA BIDANG TRADISI
    Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam.

 

 
Wujud AkulturasiBudaya Islam DiIndonesia

  ISLAM              HINDHU - BUDha                       


Maka terjadilah Akulturasi,yang semulanya indonesia menganut kepercayaan Hindu- Budha,dengan masuknya agama islam yang dibawa sejumlah penyebar agama ,makabersatulah atau terjadi akulturasi antara islam dan Hindhu – Budha yg merupakan kepercyaan awal.

     Banyak sekali macam akulturasi yg terjadi,yaitu ada dibidang :
-Seni rupa
-Aksra dan seni sastra
-Sistem Pemerintahan
-Sisrem Kalender
-Seni bangunan dan Arsitektu


Dan selain itu terdapat bidang lain yaitu,Masuknya Islam di Indonesia melahirkan berbagai macam tradisi yg sekarang ini masih di lakukan pada sebagian besar masyarakat di Indonesia.


WUJUD AKULTURASI KE BUDAYAAN ISLAM DI BIDANG TRADISI
1. GREBEG BESAR


Tradisi Grebeg besar di Demak, Tradisi ini merupakan tradisi yang ada pada zaman wali songo di mana pada waktu itu, di lingkungan Masjid Agung Demak di selenggarakan keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Keramaian itu kini dikemas dalam suatu even yang di sebut dengan Gerebeg Besar. 


2. LARUNG SESAJI KE LAUT, TRADISI SYAWALAN




 Tradisi ini rutin digelar tujuh hari setelah Idul Fitri. Acara diawali dengan arak-arakan yang dikawal sembilan orang berpakaian adat jawa sebagai simbol Wali Songo.
Nasi tumpeng yang dimasukkan dalam miniatur perahu ditandu oleh empat orang sebagai simbol empat cantrik yang berguru kepada Sunan Kalijogo. Nasi tumpeng dan aneka hasil laut kemudian dibawa ke atas perahu untuk dilarung ke tengah lautan. Sebelum tumpeng dilarung, seorang sesepuh terlebih dulu memimpin doa agar para nelayan tetap dikaruniai rezeki melimpah.

3. RUWATAN


Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan syura. Proses upacara diawali dgn Keramaian Wayang Kulit dgn cerita Murwokolo, peserta Ruwatan akan menjalani berbagai prosesi yg dipimpin oleh tokoh adapt setempat. Ruwatan ini bermaksud untuk menghindari diri dari malapetaka sang Batara Kala pada anak” yg kurang beruntung. Seperti halnya bagi anak tunggal ataupun dua anak laki” semua atau perempuan semua. Tradisi ini merupakan tradisi Jawa yg terus dilakukan secara turun temurun.
Sebelum pelaksanaan Ruwatan, anak” yg mengikuti Ruwatan harus melakukan prosesi sungkeman pada kedua orang tua masing”. Setelah itu dilakukan penyucian diri dgn pemotongan rambut yg dialasi dgn kain. Nantinya, jubah akan dilarung atau dibuang kelaut beberapa bualn setelah pelaksanaan.

4. TRADISI BULUSAN
Mbah Dado seorang alim ulama penyebar agama Islam. Beliau mempunyai murid bernama Umara dan Umari. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam beliau berniat untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka ditemukanlah tempat yang tepat untuk membangun pesantren tersebut, yaitu di kaki Gunung Muria. Pada bulan Ramadhan, tepatnya pada waktu malam Nuzulul Qur'an datang Sunan Muria untuk bersilaturrahmi dan membaca Al Qur'an bersama Mbah Dado, sahabatnya. Dalam perjalanannya, Sunan Muria mendengar orang bekerja di sawah pada malam hari sedang ndaut(mangambil bibit padi). Suna Muria berhenti sejenak dan berkata, "Lho, malam Nuzulul Qur'an kok tidak baca Al Qur'an, malah di sawah berendam air seperti bulus saja?" Akibat perkataan itu Umara dan Umari seketika menjadi bulus (kura-kura air tawar). Datang Mbah Dado untuk memintakan maaf atas kesalahan santrinya kepada Suna Muria. Akan tetapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin dapat kembali lagi. Akhirnya, Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah, keluar mata air atau sumber sehingga diberilah tempat itu nama Desa Sumber dan tongkatnya berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon tamba ati. Sambil meninggalkan tempat itu Sunan Muria berkata, "Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap satu minggu setelah hari raya bulan Syawal tepatnya waktu Bada Kupat. sampai sekarang setiap bada kupat tempat tesebut ramai dikunjungi orang untuk berziarah dan juga melihat bulus. Tradisi ini sekarang masih ada san terkenal dengan nama Bulusan.

5. DANDANGAN

 

Tradisi ini sudah ada sejak 450 tahu yang lalu atau tepatnya zaman Sunan Kudus (Syeh Jakfar Shodiq, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa). Pada saat itu, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tetapi juga dari daerah sekitarnya sepertiKendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Karena banyaknya orang berkumpul, tradisi dandangan kemudian tidak sekadar mendengarkan informasi resmi dari Masjid Menara, tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di lokasi itu. Para pedagang itu tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai daerah sekitar Kudus, bahkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Mereka biasanya berjualan mulai dua minggu sebelum puasa hingga malam hari menjelang puasa.






6. TRADISI BARATAN




Tradisi Baratan tradisi yang senantiasa dilaksanakan pada pertengahan di bulan Sya’ban (Nisfu), dan ini hanya ada di Jepara tepatnya pada masyarakat Kalinyamatan. Salah satu tradisi masyarakat Jepara yang erat kaitannya dengan Ratu Kalinyamat adalah “Pesta Baratan”. Kata “baratan” berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu “baraah” yang berarti keselamatan atau “barakah” yang berarti keberkahan. Tradisi Pesta Baratan dilaksanakan setiap tanggal 15 Sya’ban (kalender Komariyah) atau 15 Ruwah (kalender Jawa) yang bertepatan dengan malam nishfu syakban. Kegiatan dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan. Ritualnya sederhana, yaitu setelah shalat maghrib, umat islam desa setempat tidak langsung pulang. Mereka tetap berada di masjid / musholla untuk berdo’a bersama. Surat Yasin dibaca tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan shalat isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa nishfu syakban dipimpin ulama / kiai setempat, setelah itu makan (bancaan) nasi puli dan melepas arak-arakan. Kata puli berasal dari Bahasa Arab : afwu lii, yang berarti maafkanlah aku. Puli terbuat dari bahan beras dan ketan yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa yang dibakar atau tanpa dibakar. Asal usul tradisi ini, Setelah berperang melawan Aryo Penangsang, Sultan Hadirin tewas dan jenazahnya dibawa pilang oleh isterinya (Ratu Kalinyamat) pulang ke Jepara. Peristiwa itu berlangsung malam hari, sehingga masyarakat disepanjang jalan yang ingin menyaksikan dan menyambut rombongan Ratu Kalinyamat harus membawa alat penerangan berupa obor.
Setelah makan nasi puli, masyarakat di desa Kriyan dan beberapa desa di sekitarnya (Margoyoso, Purwogondo, dan Robayan) turun dari masjid / mushalla untuk melakukan arak-arakan. Ada aksi theatrikal yang dilaksanakan seniman setempat, selebihnya diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa maupun anak-anak. Ribuan orang dengan membawa lampion bergerak dari halaman masjid Al Makmur Desa Kriyan dengan mengarak simbol Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin menuju pusat Kecamatan. Mereka meneriakkan yel-yel ritmis : tong tong ji’ tong jeder, pak kaji nabuh jeder, dan sebagian lainnya melantunkan shalawat Nabi.
Dari sisi agama, tradisi ini dianggap sebagai ritual penyucian diri bagi umat islam, apalagi pelaksanaannya menjelang puasa bulan Romadlon. Selain itu, tradisi ini menggambarkan semangat dan optimisme dalam menjalani hidup, disamping keteguhan dalam menghadapi berbagai cobaan. Semua itu terangkum dalam do’a nishfu syakban yang dipanjatkan.

7. TRADISI TONGTEK


Tongtek adalah sebuah kegiatan tradisi membangunkan orang agar melaksanakan sahur dengan memukul-mukul kentongan dari bambu, memang cukup populer setiap ramadhan. Tradisi ini sudah ada sejak jaman dulu ratusan tahun yang lalu. Kegiatan tongtek ini memang ada hanya pada bulan ramadhan yang merupakan salah satu warisan dari Walisongo. Tongtek ini biasanya paling sedikit dilakukan 2 orang hingga puluhan orang dengan semua alat yang digunakan.





8. TRADISI MALAM SELIKURAN



Seribu tumpeng diperebutkan oleh abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta dan masyarakat sekitar. Tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun untuk memeringati malam selikuran atau malam ke dua puluh satu dalam hitungan bulan Ramadan yang biasa disebut malam Lailatul Qadar itu. Seribu tumpeng tersebut dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Solo yang berjarak sekitar 500 meter. Para abdi dalem juga membawa lampu menyerupai lampion atau ting. Sehingga kirab ini juga dikenal dengan nama ting-ting hik. Di depan barisan ancak canthaka, terdapat joli kencana atau kotak menyerupai anchak canthaka yang berukuran besar dan berbentuk menyerupai rumah-rumahan. Di dalam joli kencana tersebut terdapat ingkung. Setiap prosesi tumpeng seribu selalu ada dua joli kencana dan satu ting berukuran besar, lengkap dengan cap logo Keraton Surakarta. tradisi malam selikuran dengan mengusung seribu tumpeng merujuk pada malam lailatul qodar yang jatuh pada malam ganjil di bulan Ramadan. Makanya kirab dilakukan pada malam selikur sebagai malam ganjil. Dan pada malam lailatul qadar adalah malam seribu pahala. Lalu, jumlah pahala tersebut diibaratkan dengan jumlah seribu tumpeng. Selain itu, pada malam ke dua puluh satu bulan Ramadan atau malam ganjil. Nabi Muhammad SAW juga mendapatkan wahyu di Jabal Nur. Dan ketika turun dari Jabal Nur disambut oleh para sahabat dengan membawa obor selama perjalanan pulang menuju kediaman Sang Nabi. Dengan begitu, obor yang dibawa oleh para sahabat Nabi tersebut diibaratkan dengan membawa ting pada prosesi kirab ini. Bentuk ting yang dibawa para abdi dalem pun beraneka ragam, ada yang berbentuk bintang, kotak hingga bulat lampion. Setelah melakukan kirab dari keraton hingga masjid, selanjutnya seribu tumpeng tersebut diletakkan di serambi masjid. Lantas, tumpeng tersebut pun dibacakan doa yang diamini oleh para abdi dalem dan warga masyarakat umum.


9. SEKATEN

Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya

10. TRADISI SANGGRING
Tradisi budaya peninggalan putra Sunan Giri pertama yaitu Sunan Dalem. Tradisi ini masih ada hubungannya dengan asal mula nama Desa Gumeno yang diberikan oleh Sunan Dalem. Awalnya desa ini bernama Qumna, berarti golonganku. Nama Qumna sekarang disebut Gumeno. Qumna sendiri berasal dari bahasa Arab di mana q dibaca dengan G. Desa Gumeno terletak antara Desa Tanggulrejo dengan Pedagang (padukuhan Desa Tanggulrejo), Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, berbatasan antara kabupaten Gresik dengan Kabupaten Lamongan. Alkisah, suatu malam, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, dan Sunan Dalem beserta santri-santri mereka pergi ke hutan belantara untuk memperluas syiar Islam. Setiba di hutan mereka membangun masjid (sekarang Masjid Jami’ Sunan Dalem) dibangun dalam waktu semalam dan saat itu belum ada seorang pun penghuninya. Setelah membangun masjid Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat kembali dan hanya Sunan Dalem yang tinggal untuk menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Setelah masjid dibangun, ada tokoh dari daerah lain (sekarang Sipunar) melihat cahaya terang dari tengah hutan. Esoknya, beliau mencari asal sinar yang ternyata dari masjid. Akhirnya beliau mengajak warga sekitar berbondong-bondong hijrah ke tempat tersebut. Suatu saat Sunan Dalem merasa badannya kurang sehat. Beliau memerintahkan warga mengusahakan obat untuk beliau. Namun, tak ada obat maupun orang pintar yang dapat menyembuhkannya. Sunan Dalem berdoa kepada Allah SWT dan mendapat petunjuk agar membuat masakan obat. Esoknya Sunan Dalem memerintahkan warga agar membawa ayam jago berusia satu tahun. Warga pun berduyun-duyun ke masjid membawa ayam jago. Ayam-ayam pun disembelih dan sebagian warga menyiapkan bumbu-bumbu. Jadilah kemudian makanan dan tradisi sanggring (singkatan dari nggrangsange wong gering). Atau, keinginan dari orang sakit. Karena setelah menyantap sanggring atau kolak ayam, Sunan Dalem mendapat hidayah sembuh dari penyakit. Sanggring yang warisan Sunan Dalem tersebut sejak saat itu tradisi ini dilaksanakan setiap malam 23 bulan Ramadan.

11. TRADISI NGIRAB
Bulan Safar yang diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita. hal ini konon di yakini sebagai upaya Sunan kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya Rebo Wekasan, beliau mandi di Sungai Drajat pada saat berguru pada Sunan Gunung Djati untuk membersihkan diri dari bala di hari Rebo Wekasan. Ini akhirnya di ikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang di yakini dulu Sunan kalijaga mandi. Adat ini disebut dengan "Ngirab" yang artinya bergerak atau menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor. Beberapa masyarakat masih meyakini adat ini dengan dengan serius secara sepiritual, akan tetapi kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk melupakan bulan yang penuh bala ini.

1 komentar: